Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 November 2015

Lidya: Butuh Waktu Yang Lama, Ini Tidak Terjadi Dalam Semalam

Mualaf ilustrasi


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Sekitar akhir 2014, pembicaraan larangan burqa menghiasi media massa nasional di Australia. Apakah burka harus dilarang di parlemen. Ketegangan menguat akibat munculnya ISIS dan bayang-bayang serangan teror.

Mengenang perjalanan hidupnya sembilan tahun silam, ketakutan yang sama juga pernah dialami Lidya sebelum ia memeluk Islam. "Butuh waktu yang lama. Ini tidak terjadi dalam semalam. Saya bahkan tidak tahu bagaimana menggambarkannya," ungkap perempuan Australia itu mengawali kisahnya mengenal Islam, seperti dilansir dari news.com.au, Ahad (1/11).

Lidya memeluk Islam ketika usia 21 tahun. Semua bermula ketika dia masih berada di bangku universitas. Waktu itu, peristiwa 11 September baru saja pecah. Negara-negara Barat mengidap Islamofobia yang sangat akut. Amerika menyatakan perang terhadap terorisme. Hukum kontraterorisme diperkenalkan. Rata-rata orang non-Muslim mengidentikkan Muslim dengan teroris. Mereka alergi dengan hal-hal berbau Islam dan Muslim.

Pemikiran serupa juga muncul di benak Lidya. Dia heran, mengapa Muslim tampak begitu berhasrat menghancurkan Barat, mengancam nyawa orang-orang Barat? Lidya pikir pula, alangkah kasihan Muslimah. Mereka ditindas oleh selembar kain bernama jilbab. Bagi Lidya waktu itu, jilbab sama sekali tidak sesuai dengan semangat feminisme. Lidya mengaku, prasangka dan opini negatif itu terbentuk oleh jalinan asumsi yang telah bercokol di benaknya. "Tentu saja, saya belum pernah bertemu seorang Muslim. Tapi, itu tidak menghentikan saya untuk memiliki pendapat tentang jenis orang macam apa mereka dan bagaimana mereka menjalani kehidupan," kata Lidya.

Pandangannya baru berubah ketika dia menyambangi Masjid Auburn Gallipoli. Mendadak, semua kesalahpahamannya hanyut. Ia menemukan banyak kesamaan mencolok antara Islam dan ajaran Kristen yang selama ini dia anut. Kedua agama itu sama-sama meyakini kenabian Adam, Ibrahim, Musa, Nuh, dan Yesus.

Secara rutin, ia mulai tertarik pergi ke masjid setiap Sabtu. Lidya ingin tahu, mengapa Islam membenarkan pembunuhan orang tidak bersalah dan mengapa wanita diperlakukan seperti budak. Pintu hidayah perlahan terbuka di depannya.

Teman-teman dan keluarga awalnya berpikir pertobatannya hanyalah sebuah `fase'. Sebaliknya, Lidya merasa menemukan sebuah agama yang jauh berbeda dari gambaran media. Islam bukan teroris seperti yang diberitakan media-media massa. Ayat favoritnya adalah surah al-Maidah ayat 32 bahwa membunuh satu orang, ibarat membunuh manusia seluruhnya.

Tentu saja, Lidya tidak serta-merta masuk Islam setelah itu. Dia butuh waktu lama. Islam terasa begitu asing bagi Lidya. Masuk Islam juga tidak akan dianggap satu prestasi yang membuat koleganya mengucapkan, "Wah, selamat!" Alih- alih ada berbagai kekhawatiran yang menyusup, terutama soal reaksi keluarga dan kolega. "Saya tahu jika saya menerima kenyataan itu, seluruh hidupku akan berubah dan jujur, itu membuatku takut,"katanya gamang.

Kendati demikian, pada usianya yang ke-21, ia memutuskan bersyahadat. Setelah membuat keputusan itu, Lidya sadar dia harus lebih bisa mengendalikan diri. Ketika dia melakukan kesalahan, orang pasti akan mengaitkan kesalahannya dengan identitas Muslim. Sementara, saat orang- orang Nasrani melakukan kesalahan serupa, orang akan memaafkan dengan alasan mereka sedang tak enak hati.

Perempuan Australia itu memutuskan berhijab tak lama setelah masuk Islam. Orang-orang sering bertanya alasan dia memilih berjilbab. "Saya memakainya karena Muslimah dianjurkan memakai jilbab dalam Alquran," kata Lidya sederhana. Menurut dia, memakai jilbab bukan hanya untuk cara menjadi lebih baik secara fisik, tapi juga berarti menjadi lebih baik dalam ucapan dan perilaku (Kenapa orang barat lebih berfikir secara tepat ketimbang muslim sejati? Tugas bagi Anda). Jilbab juga menjadi salah satu cara menjaga diri dari gangguan laki-laki dan menolak eksploitasi seksual terhadap perempuan.

Dia mengatakan, kebanyakan orang Barat percaya, Muslimah mengenakan jilbab demi kaum laki-laki. Mereka mengira Muslimah tertindas. Nyatanya, tidak. Menurut Lidya, mayoritas Muslimah di Australia tidak dipaksa untuk mengenakan jilbab. Mereka membuat keputusan itu secara sadar.

Beberapa di antaranya menemui perlakuan buruk dari keluarga dan rekan dekat, tapi mereka tidak goyah. Itu mustahil kalau mereka hanya mengenakan jilbab karena terpaksa. Dalam salah satu prog ram di stasiun televisi Australia, dia mengungkapkan, pria Muslim juga memiliki batasan yang harus ditutup (aurat).

Jilbab adalah seni. Sementara, wanita lain sibuk dengan rambut, dia sibuk dengan jilbab. Lidya memperkirakan, dia memiliki sekurangnya 100 jilbab dari berbagai warna, kain, ukuran, dan motif. "Apa yang saya pakai tergantung pakaian saya, aksesori saya, musim, ke mana saya akan pergi berikut kode berpakaiannya, atau hal-hal seperti itu tergantung suasana hati saya," katanya.

Islamofobia Kesalahpahaman di kalangan masyarakat Barat itulah yang kadang-kadang memicu kekerasan verbal atau fisik terhadap Muslimah. "Saya pribadi pernah dilecehkan di depan anak saya yang berumur empat tahun. Bagaimana saya bisa menjelaskan pada anak saya mengapa ibunya dihina dan disumpahi? Saya disebut `pelacur Muslim gemuk' oleh seorang wanita Australia karena ya saya memang sedikit gemuk, tapi alasan dia hanya karena saya memakai lipstik," tutur Lidya.

Tiba-tiba, sebagai Muslimah yang memakai jilbab, dia direduksi menjadi sebuah simbol yang terbuka untuk dibedah, didiskusikan, dianalisis, dan dikritik. Ia juga pernah menerima surat kaleng yang menyebut dia `keluar dari pintu belakang dan menembak', 'dia harus dipenggal', atau hal-hal semacam itu.

Menurut Lidya, itu terlihat sangat ironis dan mengecewakan. Orang- orang non-Muslim Australia berbicara menentang ISIS dan kekerasan, tapi mengancam dan menyerang Muslim. "Muslimah Australia adalah orang- orang yang berpendidikan tinggi, peserta aktif dalam demokrasi. Kami bukan pengamat. Kami memiliki suara. Atas alasan apa kalian memilih untuk tidak mendengarkan?" ungkap Lidya. Ia menaruh harapan besar pada pemerintah agar mereka mengambil tanggung jawab sosial dan tidak memperburuk kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Ia meminta media dan orang-orang untuk berbicara dengan istilah yang tepat. Sama seperti membedakan celana pendek dan celana renang, istilah jilbab, burqa, dan niqab juga perlu dibedakan. Ada begitu banyak kesalahpahaman. Lidya menyarankan, apabila non-Muslim ingin tahu tentang Islam, mereka harus datang langsung ke sumbernya. "Ini bukan topik yang kontroversial. Kami tidak menakutkan orang," ujar Lidya. 

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id

Sabtu, 03 Oktober 2015

Julie Rody: Pria Itu Bilang, Ada Begitu Banyak Ilmu Dalam Islam Tak Akan Ada Habis-Habisnya Dipelajari

Mualaf ilustrasi


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, "Ma.... Aku sudah memutuskan menjadi seorang Muslim." Susah payah, kalimat itu keluar dari lisan Julie Rody, sangat sulit dan emosional. Perempuan kelahiran Minnesota itu tengah menyampaikan kabar keislamannya lewat telepon. 

Hening sesaat;

"Saya punya dua pertanyaan." Terdengar suara ibunya di seberang sana. "Apakah kamu masih percaya pada Tuhan?" Julie mengiyakan. Ibunya bertanya lagi.

Satu pertanyaan terpenting. "Apakah itu membuatmu bahagia?" "Ya, itu membuatku bahagia," jawab Julie. 

Mendengar jawaban itu, ibunya berkata, "Kalau begitu, tidak apa-apa. Kamu harus melakukan apa yang membuat kamu bahagia." Kata-kata ibunya sangat melegakan hati Julie.

Julie Rody masuk Islam sekitar 30 tahun lalu. Ia memiliki latar belakang keluarga yang harmonis dan bahagia. Ibunya berasal dari Norwegia, sedangkan ayahnya berkebangsaan Jerman. Ia dibesarkan di sebuah kota kecil berpenghuni 1.500 jiwa pada masa itu. Hanya ada 13 gereja, tidak ada sinagog ataupun masjid. Juga tidak ada satu pun Muslim di sekitarnya. Karena dibesarkan di lingkungan homogen, Julie tidak tahu apa-apa tentang Islam. Ada juga pemeluk sekte berbeda, yang paling banyak Kristen Methodis dan Lutheran. Namun, semua masih tetap Kristen tidak ada agama lain.

Untuk pertama kalinya, Julie berjumpa dengan Muslim di bangku universitas. Ia bekerja di University of Minnesota dan melihat beberapa Muslim di sana. Perempuan itu tidak tahu apa-apa tentang mereka. Ia juga terlalu malu untuk berbicara dengan mereka.

"Kemudian, saya bertemu pria yang kelak menjadi suami saya. Itu pertemuan yang sangat aneh. Waktu itu hari Valentine," kisah dia.

Hari itu, Julie berada di pusat perbelanjaan di South Ville, sebuah pusat perbelanjaan besar di kota itu. Dia tidak ingat persis, entah dia yang minta tolong sesuatu pada laki-laki itu atau sebaliknya. Yang jelas, mereka bertemu di sana, kemudian asyik berbincang-bincang. Satu topik merembet ke topik lain, sampai pada soal keluarga. Mereka bercerita tentang keluarga masing-masing. 

Salah, nama pria itu. Dia seorang Muslim. Salah bilang, dia belum pernah melihat salju. Jadi, Julie berkisah tentang kota kecilnya, Minnesota. Praktis, dia tahu banyak karena sejak kecil tumbuh besar di sana.

Pertemuan itu membawa kesan mendalam bagi keduanya. Julie memutuskan, dia ingin ibunya bertemu pria itu. Kakak laki-laki, ipar, beserta kedua adik perempuannya juga diundang datang untuk bertemu Salah. Julie mengundang mereka semua dalam sebuah acara makan malam.

Acara makan malam berjalan sangat lancar dan santai. Hanya 15 menit setelah bertemu Salah, ibunya berkata, "Dia sangat cocok denganmu." Kendati keduanya memiliki banyak perbedaan dalam hal agama, bahasa, dan latar belakang budaya, ibunya mengakui mereka klik. Hubungan mereka berlanjut setelah itu.

Lewat Salah, Julie berkenalan dengan beberapa Muslim lain. Julie bertemu istri teman Salah yang juga orang Amerika. Perempuan itu kebetulan mahasiswi di University of Minnesota, tempatnya bekerja. Dia sering datang dan mengunjunginya di kantor. Perempuan itu mengenakan jilbab, bahkan sering kali jilbab hitam lebar. 

Awalnya, jilbab itu membuat Julie merasa sedikit tidak nyaman, tapi perempuan itu tampak begitu tulus. Keduanya terus bertemu. Kalau tidak janjian di luar, kadang dia yang mengunjungi Julie di kantor. 

"Satu hal yang benar-benar menyenangkan adalah dia tidak pernah memaksa," kenang Julie. 

Dia tipikal perempuan yang tidak suka dipaksa, dan sikap sahabat-sahabat barunya sangat membantu. Kadang, keduanya berbicara di telepon. Lain waktu, mereka pergi berempat.

Perempuan itu dan suaminya, sedangkan Julie dengan Salah. Julie dan Salah sebenarnya belum menikah saat itu, tapi ada kalanya mereka keluar untuk makan siang bersama. Lewat interaksi dengan ketiga Muslim itu, Julie mulai mengenal Islam.

Penerimaan Awal-awal belajar Islam, Julie tanpa sengaja bertemu seorang teman lama yang sudah masuk Islam setahun sebelum itu. Temannya itu bahkan sudah mengenakan jilbab! Julie pun langsung bertanya tentang jilbabnya. Pasalnya, itu sebuah ganjalan besar bagi Julie. Ia melihat temannya tampak sangat berubah.  Pertemuan itu semakin meneguhkan keputusannya berislam.

Pada 1982, Julie pun memutuskan masuk Islam. Salah turut andil meyakinkannya. Semula, Julie merasa pengetahuan keislamannya masih sangat dangkal. Dia sudah belajar banyak, tapi selalu merasa kurang. Ia merasa masih saja tidak tahu banyak tentang Islam. Tak terkecuali, saat perempuan itu sudah melafalkan syahadat. Sampai sekarang pun, kata Julie, setiap kali melihat ke belakang, ia merasa pengetahuannya baru berada di permukaan. Pada titik itu, Salah meyakinkan Julie.

Pria itu bilang, ada begitu banyak ilmu dalam Islam. Tak akan ada habis-habisnya dipelajari. 

"Dia berkata, sekalipun saya yang terlahir Muslim, saya tidak tahu segala sesuatu tentang Islam. Kita memiliki ulama, tempat kita belajar. Mereka orang- orang yang dikaruniai keluasan ilmu agama," kata Julie menirukan ucapan suaminya.

Di tengah komunitas baru, Julie bahagia, minimal dia merasa nyaman. Tidak pernah ada seorang yang memaksanya. Salah atau teman-temannya sekalipun. Mereka membiarkan Julie berproses dengan caranya sendiri. Ketika mengucapkan syahadat, dia hanya mengenakan syal kecil yang diikatkan ke belakang. Tidak ada yang menyuruhnya mengenakan pakaian seperti ini, berperilaku seperti itu, dan seterusnya. Mereka bersikap sangat lembut dan tenang padanya.

"Itu sangat banyak membantu," ucap Julie bahagia.

Tak mudah Konversi bukan pilihan mudah. Pilihannya untuk tidak keluar minum-minum lagi membuatnya terpaksa kehilangan beberapa teman lama. Julie pun sempat khawatir dengan respons keluarga. Ibunya, orang yang paling membuatnya khawatir akan menolak keislamannya, ternyata menerima dengan tangan terbuka. Lain halnya dengan Penny, sikap adiknya itu agak berbeda.

Julie mempunyai dua orang adik perempuan.  Penny, adik perempuan pertamanya, berusia dua tahun lebih muda. Awalnya, sikap Penny agak lain bila mereka kebetulan keluar rumah bersama. Apalagi, jika Julie memakai jilbab dan keduanya pergi ke suatu tempat yang orang- orangnya mengenal Penny. Julie tahu, Penny merasa sedikit malu memperkenalkannya.

Semua ketidaknyamanan itu lebur seiring waktu. Memang tidak singkat, tapi adiknya akhirnya mengerti bahwa tidak ada sesuatu pun yang berubah di antara mereka. Setelah beberapa tahun, mereka bisa tertawa bersama, berjalan bersama, dan berbicara dengan santai.  Penny bisa memperkenalkan Julie tanpa sungkan kepada siapa pun. "Oh. Ini saudaraku, Julie."

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id

Jumat, 21 Agustus 2015

Carolyn Erazo: Saya Adalah Tipikal Gadis Amerika Tulen Dan Tentu Saja, Saya Memulai Perjalanan Dari Kristen Agama Tempat Saya Dibesarkan

Carolyn Erazo


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Sedari kecil, Carolyn Erazo sering berharap supaya tidak perlu pergi ke gereja meski dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen.

“Saya adalah tipikal gadis Amerika tulen,” 

katanya memulai cerita pada Muslim Village, Kamis (20/8). Carolyn mengaku tidak senang dengan kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Ahad itu. Ia tidak pernah percaya dengan apa yang diajarkan. Ada banyak inkonsistensi tampak di hadapannya, tapi tidak sedikitpun terbersit keinginan di hati Carolyn untuk mencari tahu. Ia hanya sekadar berpikir, bagaimana kita bisa mempercayai apa yang tidak kita ketahui? Apakah semua peristiwa benar-benar terjadi seperti yang dikisahkan Alkitab, atau jangan-jangan Alkitab itu hanya sebuah buku cerita yang terselip di antara deretan rak buku.

Beberapa tahun kemudian, Carolyn menghadiri sebuah retret gereja. Dari sanalah, awalnya Carolyn memiliki keinginan untuk melakukan perjalanan spiritual. Ia merefleksi kejadian-kejadian yang telah lampau. Di satu sisi, ia bersyukur, semenjak kecil telah menerima banyak kemewahan. Tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang ia dapatkan.

Pada hari terakhir retret, Carolyn berjalan menyusuri bukit besar hingga ke pantai dan terduduk memandangi lautan. Perempuan itu sendirian. Ia begitu berharap Tuhan mengulurkan tangan dan menyentuhnya dengan penuh kasih. Sore itu, ia merasa telah datang kepada-Nya dengan segenap keyakinan bahwa Dialah satu-satunya penolong. Carolyn menyatakan, peristiwa itu begitu membekas dan mengubah jalan berpikirnya. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari iman, yang menurut dia, tidak akan pernah dia temukan. Saat itulah, mendadak air mata hangat mengalir di wajah Carolyn. Ia menyerah pada Tuhan. 

“Baik, kalau Dia melupakanku, aku juga akan melupakannya,” 

ujar Carolyn saat itu. Selama tahun-tahun berikutnya, ia hidup tanpa iman. Ia belum menemukan jawaban apapun atas kegelisahannya. Setiap pertanyaan yang muncul malahan membuat Carolyn semakin marah lantaran tidak pernah ada jawaban. 

Sampai kira-kira empat tahun lalu, hatinya terbuka kembali. Akhir Februari, ia tengah menghadiri sebuah upacara pemakaman. Carolyn takjub melihat sikap si ibu yang baru saja kehilangan anak di pemakaman itu. Perempuan yang tengah berduka cita itu sanggup berbicara pada Tuhan dengan lapang dada, tanpa jerit tangis kesedihan. Carolyn heran. Perempuan itu memahami kenyataan bahwa anaknya kini tenang bersama Tuhan. Sesuatu yang tidak dapat ia pahami. Ia menatap perempuan itu dengan iri. Si ibu itu pasti memiliki keimanan yang kuat pada Tuhan. Kesan itu tidak pernah pudar hingga beberapa hari kemudian.  

Carolyn butuh waktu seminggu sampai ia memutuskan untuk melakukan perjalanan spiritual. Ia tidak bisa hanya terus-menerus mencari pembenaran. Ia harus menemukan Tuhan dan menjawab pertanyaan yang berkelindan di benaknya.  

“Tentu saja, saya memulai perjalanan dari Kristen. Agama tempat saya dibesarkan,”

kata Carolyn. Ia pun duduk di gereja selama berminggu-minggu untuk mendengarkan ceramah. Tapi, nyatanya ia hanya mendapat sedikit percikan iman. Setelah beberapa bulan, Carolyn pun memperluas skala pencarian. Carolyn Erazo terbangun sangat awal untuk menemukan sebuah masjid yang telah ia cari sejak malam sebelumnya. Ia harus menuntaskan rasa ingin tahunya. Kali ini, perempuan Amerika itu ingin menjajaki Islam. 

Perempuan itu mulai mengemudikan mobilnya di sekitar lokasi, tapi tak bisa menemukan masjid itu, padahal ia sudah memegang alamatnya. Singkat cerita, Carolyn sampai di masjid yang dia tuju. Jauh di lubuk hati, ia merasa agak ketakutan. Kendati gemetar, Carolyn mendekati pintu dan membukanya. Seorang pria mendekati Carolyn lantaran ia berdiri di pintu masuk dan menanyakan imam masjid. Ia diberitahu bahwa imam tidak ada di tempat, tapi ia meyakinkan bahwa mereka akan menghubunginya setelah imam datang. Carolyn menuliskan nomor dan bergegas keluar. Jujur, ia tidak yakin akan ditelepon.

Sebelum pergi, orang yang berbicara padanya sempat memperkenalkan nama sang imam. Abdul Lateef, namanya. Sejak keluar dari masjid itu, Carolyn harap-harap cemas, antara ingin ditelepon dan takut ditelepon. Kurang dari dua jam kemudian, ia tidak bisa percaya bahwa Imam Abdul Lateef benar-benar menelepon.

Ketakutannya segera terhapus mendengar suara di ujung telepon. Imam Abdul Lateef mengundangnya untuk datang dan bertemu dengan dia malam itu. Carolyn kembali datang ke masjid. Ia segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangan sang imam dan memperkenalkan diri. Tapi, dengan cepat imam itu menolak uluran tangannya, meminta maaf, sambil menjelaskan alasan. 

“Saya ingat dengan jelas. Saya kira itu benar-benar hal pertama yang membuat saya terkesan,”

kenang Carolyn. Kendati, ia merasa malu. Sampai-sampai, ia ingin marah pada bosnya lantaran tidak memberi tahu ada aturan itu sebelumnya. 

Imam Abdul Lateef mengajaknya duduk dan menanyakan semua persoalan yang ia alami. Carolyn mulai menjelaskan bahwa ia sedang dalam masa pencarian. Ia sudah menjelajahi kekristenan dan mengungkapkan argumen mengapa ia gagal menemukan kebenaran dalam ajaran Kristen. Imam Abdul Lateef tak banyak berkomentar. Ia membiarkan Carolyn mencurahkan segenap kerisauannya. Setelah usai, barulah Imam Abdul Lateef menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan runtut. Apa yang menjadi kegelisahan Carolyn selama ini mulai menemukan jawaban. 

Saat ia perhatikan, apa yang dikatakan Imam tampaknya benar. Tak kurang dari dua jam, Carolyn terus membombardir Imam dengan berbagai pertanyaan. Ia ingin benar-benar meyakinkan diri atas pilihannya. Ketika ia merasa cukup dan beranjak menuju pintu, Abdul Lateef berkata, 

“Terima kasih sudah mengizinkan saya menjadi bagian dari perjalanan Anda. Saya berharap, ketika Anda meninggalkan tempat ini, Anda tahu apakah Anda Muslim atau non-Muslim.”

Carolyn memikirkan kata-kata itu setiap  malam, selama lebih dari seminggu. Ucapan itu terngiang-ngiang dan membebani otaknya. Tiga hari berlalu, Imam Abdul Lateef kembali menelepon. Ia seolah tahu bahwa Carolyn sedang membutuhkan lebih banyak jawaban. Mereka berbicara panjang lebar hingga satu jam lewat telepon.

Selama beberapa bulan kemudian, Carolyn melahap berbagai literatur yang berkaitan dengan Islam. Ia harus tahu lebih banyak sebelum memutuskan. Agama ini masuk akal, kata Carolyn, tidak ada yang membuat perempuan itu meragukan kebenaran Islam. Muslim juga tidak mengerikan, sebagaimana anggapan masyarakat. Bahkan, dalam beberapa hal, mereka lebih baik daripada orang-orang Amerika. Kendati, ada Muslim yang pernah melakukan aksi-aksi teroris seperti yang diklaim Barat dan Amerika, Alquran tidak mengajarkan itu.

“Bagaimana saya menjelaskannya? Tidak ada yang mengerti. Mayoritas di lingkungan saya mengatakan, Islam tidak sesuai dengan identitas kami,” 

kata Carolyn, yang berkulit putih dan asli Amerika. 

Seandainya ia cocok dengan kekristenan, barangkali tidak masalah. Pasalnya, Carolyn merasa tidak cocok. Ia tidak bisa menolak takdir dan iman dia. Hati dan pikirannya terbuka untuk Islam, tapi ia masih belum memutuskan tekad. Ia membuat seribu satu alasan mengapa ia tak bisa. Termasuk ramadhan, Ia takut akan kewajiban puasa itu.  

Carolyn ingat dengan jelas apa yang dikatakan Imam Abdul Lateef ketika ia mengungkapkan kekhawatirannya.

“Saudariku, Ramadhan seharusnya tidak menakut-nakutimu. Saya jamin, Anda akan bersyahadat sebelum Ramadhan berakhir,” kata dia. 

Tebakan Imam Abdul Lateef benar! Dua minggu selepas Ramadhan, Carolyn Erazo bersyahadat. Ia begitu gugup saat memasuki masjid untuk bersyahadat. Perasaannya tidak terlukiskan. Malam itu juga, ia menelepon Abdul Lateef. Imam itu hanya tertawa kecil. Ia percaya Carolyn tinggal menunggu momentum. 

Kebahagiaan Carolyn menuai masalah saat orang-orang di lingkungan sekitarnya mengetahui keislaman perempuan itu. Ia mendapat banyak penentangan. Setiap ejekan seolah sengaja dilontarkan untuk membuat dia marah. Sepanjang waktu, Carolyn mencoba bertahan.  

Juni 2015, tepat tiga tahun Carolyn masuk Islam. Perempuan itu mengakui, seseorang tidak mungkin bisa hidup tanpa keyakinan dan iman. Ia mulai aktif di berbagai forum mualaf.

"Saya akan terus belajar memberikan respon-respon cerdas terhadap semua sentimen anti-Muslim yang dilemparkan pada saya," ucapnya yakin.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id

Minggu, 09 Agustus 2015

Saya Menjadi Sangat Tertarik Pada Kesederhanaan, Kejelasan dan Keindahan Pesan Islam

Mualaf ilustrasi

ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Hidayah Allah datang di waktu dan tempat yang tak pernah diduga, dengan cara yang tidak disangka-sangka pula. Hal tersebut dialami Mualaf Amerika bernama Talib Abdul Ahad. Siapa sangka, setelah melewati fase kegelisahan dan pencarian, ia akhirnya meneguhkan hati memeluk Islam. Itu terjadi pasca membaca secarik artikel di majalah National Geographic pada 1979. Seperti dilansir, onislam.net, Rabu (29/7), Talib mengisahkan tentang bagaimana hidayah itu datang. “Artikel membahas tentang kisah haji seorang Muslim Amerika,” kata dia.

Ia yang sebelumnya menyangka bahwa Muslim adalah sama dengan Arab pun mengkaji ulang pandangannya. Talib pun kemudian tergerak untuk membaca sejumlah kisah sejarah kehidupan Nabi Muhammad dalam artikel. Pembacaan terus berlanjut dengan melakukan studi panjang tentang Alquran dan Sunnah.

Sejenak ia mengenang, sejak kecil ia dibesarkan dalam lingkungan dan ajaran Kristen yang kental. Orangtuanya rajin beribadah ke gereja. Ia pun sudah mulai diperkenalkan tentang Tuhan Yesus dan Alkitab sejak kecil. Namun dalam perjalanannya, ia kerap merasa dihadapkan pada sejumlah keganjilan dalam kisah-kisah Alkitab. “Tapi jawaban atas banyak dari pertanyaan yang membingungkan itu malah menimbulkan lebih banyak lagi kebingungan,” kata dia. Ketika berusia 12, ia terus bertanya dan melakukan upaya serius yakni mengkaji Perjanjian Baru. 

“Tapi saya justru melihat banyak hal kontradiktif dalam teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru,” ujarnya. Di sisi lain, lingkungan sekitar terus mendorongnya agar terus mendekatkan diri pada Yesus Kristus. Di hari pembaptisan, ia merasa telah membohongi diri sendiri. Ketik itu pendeta bertanya apdanya apakah ia baik-baik saja. Dan Talib berkata “Ya”, padahal ia merasa tidak baik-baik saja sama sekali. 

Pencarian talib terus berlanjut hingga menginjak usia 13. Di mana, ia kerap bersikap vocal mengkritisi ajaran Kristen dan menyinggung orang-orang Kristen untuk tidak mengikuti jalan Yesus. Ia juga membaca berbagai literatur yang bertentangan dengan agama Kristen, bahkan kebanyakan mengarah pada ajaran atheis.

Dari serangkaian pencarian yang panjang, ia pun mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan. Ia bahkan sempat berpikir apakah akan menjadi seorang yang tak bertuhan (atheis) selamanya. Di sisi lain, ia berpandangan bahwa Muslim adalah sama dengan Arab sebagaimana diajarkan di sekolahnya. Satu hal lagi, Muslim adalah teroris dan bertindak sewenang-wenang terhadap kalangan wanita. Begitulah anggapannya kala itu.

Prasangkanya terhadap Islam justru menyulut rasa penasarannya untuk mengenal islam lebih dekat. Ia mulai mempelajari Alquran, hadis otentik, mendengarkan khutbah, dan membaca kuliah serta artikel tentang Islam. “Saya menjadi sangat tertarik pada kesederhanaan, kejelasan, dan keindahan pesan Islam,” tuturnya.

Setelah mempelajari kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW, ia pun menjadi semakin mantap untuk memeluk Islam dan menyatakan dua kalimat syahadat. Ia merasa, banyak mempelajari islam membuat keimanannya terus-menerus Tumbuh kepada Allah Taala. Ia juga senantiasa bertobat agar tak mengulangi kesalahannya di masa lampau.

Edited : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id

Sabtu, 25 Juli 2015

Jennifer Bell: Kedamaian Yang Saya Rasakan Hari Itu Tidak Pernah Meninggalkan Saya Lagi

Mualaf Ilustrasi


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Jennifer A. Bell telah mencari Tuhan sejak berusia delapan tahun. Ia tinggal di daerah pedesaan yang hanya ada dua pilihan; Kristen atau tidak percaya pada Tuhan. Tidak ada jenis agama lain. Dilansir dari onislam.net, Jumat (24/7), Jennifer telah memiliki masalah dengan Kekristenan sejak kecil. Ia tidak percaya pada konsep trinitas dan ketuhanan Yesus. Ia berpindah dari satu gereja ke gereja lain, tapi tidak menemukan jawaban.

Saat ia mulai remaja, tatanan masyarakat Amerika mulai mengalami kerusakan. Selama waktu-waktu tersebut, ia berada pada kondisi penuh masalah. Ada beberapa kesempatan ia hampir mati, baik dibunuh maupun bunuh diri. Ia menjadi pecandu alkohol, narkoba, dan seks bebas. 

Di bangku kuliah, Jennifer bertemu seorang pria yang kemudian menjadi suaminya. Pria itu tidak pernah terjerumus dalam dunia bebas yang dilakoni Jennifer. Ia seorang pria yang baik dengan karakter moral kuat, meski tidak percaya pada Tuhan. Jennifer tidak tahu mengapa laki-laki itu tertarik padanya. Tapi, ia membantu Jennifer hidup normal kembali. Ini adalah saat di mana Jennifer mulai merasa dekat dengan Tuhan. 

Lewat literatur di perpustakaan, ia mulai membaca tentang agama-agama lain yang ia dengar. Hindu, Buddha. Yahudi, Shinto, dan lain-lain. Hanya saja, ia masih belum mendengar tentang Islam. Jennifer masih belum menemukan jalan untuk mengeksplorasi kebenaran.

Jennifer kemudian menikah dengan pria teman kuliahnya. Ia cukup puas dengan pernikahan dan karirnya. Tapi, itu hanya sementara. Ia divonis oleh dokter tidak akan pernah bisa hamil. Lantaran masa lalunya yang buruk, ada terlalu banyak kerusakan pada rahim Jennifer. 

Realita berbicara lain. Jennifer hamil. Ia pun begitu terkejut dan bersyukur. Ia berdoa janin yang dikandungnya terlahir laki-laki, dengan mata biru seperti suaminya. Dan, anaknya memang lahir dengan semua ciri-ciri yang ia minta. Sekarang ia sadar, itu tanda-tanda dari Allah atas pencariannya. 

Setelah melahirkan, Jennifer mengalami masalah emosional. Dokter mendiagnosisnya mengalami depresi post-partum (depresi pasca-melahirkan). Pernikahannya berada di ambang kehancuran, sementara keluarganya berantakan.

Bibit-bibit kehancuran rumah tanga itu telah muncul sejak ia hamil, tapi baru meledak tiga tahun kemudian. Untuk melarikan diri dari kenyataan, ia menghabiskan waktu dengan chatting di internet. 

Suatu malam, Jennifer chatting dengan seorang pria. Bahasa Inggrisnya bisa dimengerti, tapi tidak cukup baik. Jelas ia bukan orang Amerika. Tapi, Jennifer merasa pria itu berbeda dari yang lain. Ia masih menghabiskan waktu untuk chatting dengan pria yang sama selama beberapa hari kemudian. 

Pada pertemuan ketiga atau keempat, pria itu menyatakan diri sebagai Muslim. Ia mulai menjelaskan tentang Islam. Mereka berdiskusi tentang trinitas dan Yesus. Jennifer tidak bisa membantah apa yang pria itu katakan. Lebih jauh lagi, ia merasa semua benar. Tapi, itu tidak serta merta meyakinkannya bahwa Islam memang agama yang benar. 

Sementara, hidupnya begitu berantakan. Belum lepas dari krisis rumah tangga, ia mendapat masalah di tempat kerja. Jennifer jatuh ke dalam depresi yang parah. Otot-otot lehernya tegang dan sulit berbicara. Ia hampir tidak tidur atau makan. Jennifer merasa putus asa. Ia hanya bisa pergi ke dokter dan menelan pil anti-depresi.

Jennifer kembali menemui pria Muslim, teman chattingnya di internet. Ia tampak tahu begitu banyak hal. Awalnya, apa yang ia katakan terdengar aneh. Pria itu hanya menyuruh Jennifer mandi, membersihkan diri dari kepala sampai kaki, menjernihkan pikiran, dan konsentrasi pada Allah. 

Meski heran, ia ikut saja apa yang diperintahkan pria Muslim itu. Anehnya, setelah beberapa saat berkonsentrasi pada Tuhan, ia merasa kedamaian yang menenangkan memenuhi hati dan jiwanya. Padahal selama ini ia begitu kacau dan sulit berkonsentrasi. Ia merasa Tuhan masuk ke dalam hatinya. Lewat pengalaman dan penjelasan teman chattingnya, Jennifer merasa menemukan agama yang tepat. Hanya berselang seminggu kemudian, ia membuat janji dengan seorang imam di masjid. Perempuan itu akhirnya memutuskan bersyahadat. 

“Kedamaian yang saya rasakan hari itu, tidak pernah meninggalkan saya lagi,” aku Jennifer.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id

Selasa, 21 Juli 2015

Noora Al Samman: Dia Menemukan Alquran Begitu Menakjubkan

Mualaf Ilustrasi


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Noora Al Samman memeluk Islam ketika berumur 15 tahun. Ibunya perempuan Suriah kelahiran Detroit, sedangkan ayahnya berkebangsaan Amerika keturunan Polandia-Slovakia. Dilansir dari onislam.net, Ahad (5/7), Noora lahir di Detroit, Michigan dengan latar keluarga Katolik.  Ketika ia berumur lima belas tahun, ia ingin menjadi seorang biarawati. Ia mengambil kelas Sejarah Dunia di sekolah menengah dan mempelajari semua agama-agama besar. 

Ketika pembahasan di kelas sampai pada Islam, ia menjadi sangat tertarik. Ada seorang Muslim Mesir, kawan sekelasnya, yang mengoreksi pendapat guru ketika ia melakukan kesalahan. Noora berpikir, “Wow!” Siswa itu pasti memiliki iman yang kuat sampai berani mengoreksi guru di kelas. 

Suatu hari ia bertanya apa perbedaan antara Katolik dan Islam. Kawan sekelasnya itu menjawab ada, tapi tidak banyak. Tidak puas dengan jawaban itu, Noora bertanya apakah ia bisa mendapatkan salinan Alquran berbahasa Inggris. Noora pun mendapatkannya dari ibu kawan sekelasnya itu. Ia mulai membacanya, dan terpesona oleh kalam Allah. 

Noora sangat menyukai puisi. Dia menemukan Alquran begitu menakjubkan, tak ada seorang pun pria yang bisa menulis puisi seindah ini. Saat itu juga, ia merasa menjadi Muslimah. Ia mulai shalat dan berpuasa. Seiring dengan keputusan besar Noora, kesulitan itu mulai muncul. Orang tuanya, terutama ibu, bersikap sangat keras. Mereka mengambil hijab, sajadah, Alquran, dan buku-buku Islam yang ia punya. 

Ayahnya menggeledah kamar setiap hari hingga Noora harus menyembunyikan hijabnya. Ibunya melarang Noora berteman dengan Muslim. Ia menelepon orang tua teman-temannya dan meminta mereka berhenti berbicara tentang Islam pada putrinya. Mereka berdua juga memaksa Noora pergi ke gereja dan bertemu dengan pendeta. Tak berhenti sampai di situ, tantangan terus datang bertubi-tubi. Mereka mengejeknya saat shalat. Ibunya memasakkan daging babi, yang jelas-jelas haram dalam Islam. Ayahnya memberi Noora pilihan; tetap Katolik atau pergi dari rumah. 

Noora sampai harus menyembunyikan Alquran di ventilasi AC. Mereka akan membuangnya ke tempat sampah jika menemukan kitab suci itu. Ia tidak bisa menjelaskan betapa menyakitkan sikap kedua orang tuanya saat itu. Ayahnya mengulang kembali ultimatum. Untuk beberapa saat, Noora berhenti shalat. Teman-teman Muslimnya tidak ada yang paham apa yang ia alami. Mereka juga belum matang dan berpengetahuan cukup untuk membantu Noora. 

Suatu hari, saat ia berusia 20 tahun dan telah berada di universitas, ia menelepon perempuan yang pernah memberinya Alquran. Ia mendengar ada sebuah masjid yang dibangun di dekat mereka. Sebelumnya, masjid terdekat membutuhkan waktu tempuh 1 jam, 45 menit. 

Noora bergegas pergi ke sana, ia sampai menangis ketika mendengar suara azan berkumandang di masjid itu. Gadis itu mengulang kembali syahadatnya di bulan Ramadhan. Kali ini, ia tak ingin peduli lagi dengan apa kata orang tua atau keluarganya. 

Ia mulai mengenakan hijab lagi. Sama seperti lima tahun lalu, orang tuanya melarang. Ibunya bilang, dia tidak perlu memakai benda itu di kepalanya. Ia bisa memakai celana pendek dan tetap modis. Ibunya menambahkan, ia tampak seperti wanita tua mengenakan hijab itu.  

Tapi, Noora sudah berkomitmen. Kadang-kadang, ia mengenakan hijab saat di mobil sehingga mereka tidak melihatnya. Suatu kali, ibunya tidak ingin teman-teman kakak Noora melihatnya mengenakan hijab. Mereka pun merenggutnya dari kepala Noora. 

Keributan pun terjadi. Untuk mempertahankan diri, Noora memukul ibunya. Ibunya marah. Ia dikatakan egois dan telah mempermalukan seluruh keluarga. Ibunya tidak mau terlihat dengan Noora di tempat umum. 

Gadis itu juga mendapat kesulitan dari neneknya. Ketika ia tengah shalat, ia berteriak-teriak memanggilnya untuk kemudian berkata, “Apakah kamu tidak mendengar saya ketika saya berbicara denganmu!” Tak hanya itu, kakeknya pun ikut berhenti bicara pada Noora. 

“Ibuku bahkan mencoba untuk membawa saya ke psikiater. Psikiater itu memberi obat pasikotik. Aku melemparkannya ke tempat sampah,” tutur Noora. Ia merasa sangat sulit belajar dengan semua kegilaan ini.

Kegilaan itu berakhir ketika ia bertemu seorang Muslim asal Damaskus, Suriah. Mereka menikah dan pindah dari Atlanta ke Houston. Tak ada lagi yang melarang Noora untuk shalat, puasa, ataupun berhijab. Ia sangat bersyukur. Kebahagiaan itu makin terasa sempurna setelah ia melahirkan putra pertamanya setahun kemudian.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id

Hayat Anne Collins Osman: Pada Hari Ini Telah Ku Sempurnakan Agamamu, Telah Ku-cukupkan Nikmat-Ku Bagimu, dan Telah Ku-ridhai Islam Menjadi Agamamu

Mualaf ilustrasi


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Hayat Anne Collins Osman dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen Amerika. Waktu itu, orang Amerika masih lebih religius dibanding sekarang. Sebagian besar keluarga pergi ke gereja setiap Minggu. Orang tua Anne pun terlibat dalam komunitas gereja. Mereka memiliki imam atau guru agama di rumah. Ibunya mengajar di sekolah Minggu dan Anne sering membantu. Sejak kecil, ia jauh lebih religius daripada anak-anak lain. Pernah suatu kali saat ia berulang tahun, bibinya memberi Alkitab, sedangkan adiknya diberi boneka. Lain waktu, ia meminta buku doa dan Anne membacanya setiap hari selama bertahun-tahun. 

Ketika ia duduk di bangku SMP, Anne mengikuti program studi Alkitab selama dua tahun. Sampai saat itu, ia telah membaca beberapa bagian Alkitab, tapi tidak mengerti dengan baik. Anne berpikir, sekaranglah kesempatannya untuk belajar. Sayangnya, kata Anne, mereka mempelajari banyak bagian dari Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama yang tidak bisa dijelaskan, bahkan aneh.  Misalnya, konsep original sin atau dosa turunan dalam Alkitab. Anne punya saudara yang masih bayi, dan menurutnya bayi tidak berdosa. 

Alkitab juga memiliki cerita yang sangat aneh dan mengganggu, misalnya tentang cerita Nabi Ibrahim dan Daud. Ada banyak hal, sangat banyak hal lain yang sebenarnya membuat Anne bingung. Tapi, dia takut bertanya-tanya karena ingin dikenal sebagai gadis yang baik. Untungnya, ada seorang anak yang bertanya dan terus bertanya. Permasalahan paling serius adalah gagasan tentang konsep trinitas. Anne tidak paham. Gadis yang mengambil studi mitologi Yunani dan Romawi ini berpendapat, gagasan trinitas bisa jadi terpengaruh oleh dua kebudayaan besar tersebut. 

Anak laki-laki yang terus bertanya itu menerima banyak jawaban, tapi tak puas. Begitu pula Anne. Guru mereka, seorang profesor teologi di Universitas Michigan, lantas menyuruhnya berdoa meminta peneguhan keimanan. Anne pun ikut berdoa. 

Ketika masih SMA, Anne diam-diam ingin menjadi seorang biarawati. Ia tertarik dengan pola ibadah sepanjang hari, kehidupan yang sepenuhnya untuk Allah, dan cara berpakaian yang religius. Sayangnya, dia bukan Katolik. Anne tinggal di kota Midwestern, di mana umat Katolik merupakan minoritas yang berbeda dan tidak popular. 

Saat berada di universitas, gadis itu terus berpikir dan berdoa. Mahasiswa sering berdebat tentang agama, dan Anne mendengar banyak ide yang berbeda. Seperti Yusuf Islam (Cat Steven), ia mempelajari beberapa gagasan spiritualitas Timur; Buddha, Konghucu, dan Hindu.

Suatu kali, Anne bertemu dengan seorang Muslim Libya. Ia memperkenalkan Anne pada Islam dan Alquran. Dia mengatakan, Islam sangat modern. Islam adalah bentuk paling up to date dari agama-agama wahyu. Tapi, karena Anne melihat Afrika dan Timur Tengah bukan negara maju, ia tidak bisa melihat apa yang modern dari Islam. 

Keluarga Anne kemudian mengajak pria Muslim Libya itu ke gereja saat Natal. Misa itu sama seperti biasa, tapi yang berbeda, pria itu bertanya, “Siapa yang membuat tata cara ibadah ini? Siapa yang mengajarimu ketika kamu berdiri, membungkuk, dan berlutut? Siapa yang mengajarimu cara berdoa seperti ini?” Anne pun menjelaskan sejarah awal gereja, meski pertanyaannya membuat gadis itu marah pada awalnya. Tapi, lama kelamaan itu membuatnya berpikir. 

Apakah orang-orang yang merancang tata cara ibadah ini memang telah memenuhi syarat untuk melakukannya? Bagaimana mereka tahu praktik ibadah harus begini dan begitu? Apakah mereka mendapat instruksi Ilahi? Pertanyaan-pertanyaan itu berkelindan di benak Anne, dan ia belum mendapat jawaban.

Anne tahu dia tidak sudah mempercayai sejumlah ajaran Kristen, tapi gadis itu tetap menghadiri gereja. Saat jemaat membacakan bagian-bagian tertentu seperti Kredo Nicea, diam-diam Anne tidak melafalkannya. Ia merasa terasing, hampir seperti alien di gereja. 

Satu kali, Anne benar-benar merasa jijik. Seorang kawan dekat mengalami masalah perkawinan yang serius, lalu menemui pendeta gereja untuk minta saran. Mengambil kesempatan di tengah kesempitan, pendeta itu mengajak teman dekat Anne ke hotel dan menggodanya. Jika selama ini Anne merasa tidak perlu waspada dengan peran pendeta dalam kehidupan umat Kristiani, sekarang ia merasa harus. Ia pergi ke gereja dan melihat para pendeta itu di depan. Mereka tidak lebih baik daripada jemaat yang hadir, bahkan beberapa lebih buruk. 

Ia heran, mengapa mereka tidak bisa berurusan dengan Tuhan secara langsung, termasuk dalam menerima pengampunan-Nya ? Segera setelah itu, dia membeli Alquran terjemahan di toko buku dan mulai membacanya. Anne membaca Alquran selama delapan tahun. Selama itu pula, ia terus menyelidiki agama-agama lain. Lama kelamaan, Anne semakin sadar dan takut akan dosa-dosanya. Dia tidak lagi percaya pada pengampunan Tuhan model agama Kristen. Dosa-dosa itu terasa begitu membebani, sementara dia tidak bisa melarikan diri. Ia merindukan pengampunan. 

Suatu hari, ia membaca surah Al Maidah ayat 83-84 tentang keimanan para ahlul kitab setelah turunnya wahyu. Anne mulai berharap Islam bisa menjadi jawaban. Ia semakin yakin ketika melihat cara Muslim shalat dalam sebuah berita di TV. Mereka mempunyai cara khusus untuk sholat. Anne juga menemukan sebuah buku panduan sholat yang ditulis non-Muslim dan mencoba mempraktikkannya. Ia shalat dengan cara seperti itu diam-diam selama beberapa tahun. 

Akhirnya, sekitar delapan tahun sejak pertama kali membeli Alquran, ia menemukan surah Al Maidah ayat 3. Pada hari ini telah Ku sempurnakan agamamu, telah Ku-cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agamamu. Ia menangis gembira karena ia tahu bahwa jauh sebelum dia tercipta Allah telah menuliskan Alquran untuknya. Allah sudah tahu bahwa Anne Collins di Buffalo, New York akan membaca ayat itu pada tanggal sekian jam sekian. 

Sekarang, ia tahu bahwa ada banyak hal yang harus ia pelajari. Misalnya, cara sholat, membaca Alquran, dan lain-lain. Anne tidak tahu apa-apa tentang Islam. Muslim AS belum sebanyak sekarang dan Anne tidak tahu di mana menemukan mereka. Ia lantas mendapati nomor telepon Islamic Society di daftar buku telepon dan membuat panggilan. Tapi, ketika seorang pria menjawab teleponnya, Anne justru panik dan menutup telepon. Apa yang harus dikatakan? Apakah mereka akan curiga? 

Selama beberapa bulan ke depan, ia beberapa kali menelepon masjid. Setiap kali itu pula ia panik dan menutup telepon. Akhirnya, ia melakukan cara yang dirasa aman, meski menurutnya pengecut. Dia menulis surat meminta informasi. Pengurus masjid kemudian menelepon Anne dan mengirimkan beberapa tulisan tentang Islam. Ia mengatakan kepada mereka keinginannya untuk menjadi Muslim, tapi mereka menjawab, “Tunggu sampai Anda yakin.”

Itu membuatnya agak kecewa. Tapi, Anne tahu mereka benar. Ia harus benar-benar yakin dengan pilihannya karena setelah itu semua tidak akan sama lagi. Siang malam, ia berpikir tentang Islam.  Pada beberapa kesempatan, ia pergi ke sebuah masjid (rumah tua yang dialihfungsi) dan berputar berkali-kali sambil berharap melihat seorang Muslim. 

Sampai suatu hari di awal November 1986, saat tengah bekerja di dapur, tiba-tiba ia merasa apa yang dia lakukan selama ini tak ada beda dengan yang dilakukan Muslim. Masih merasa pengecut, ia mengirim surat ke masjid, menyatakan keislamannya. 

Pengurus masjid menelepon Anne keesokan harinya. Gadis itu menyatakan syahadat melalui telepon. Ia merasa beban dosa itu terangkat dari bahunya. Ia pun menangis dan bersyukur.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id

Rachel Azar: Saya Mencoba Untuk Meyakinkan Ibu Saya Bahwa Islam Adalah Agama Yang Damai

Rachel Azar


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Seorang perempuan Yahudi di Maroko diusir dan dianiaya oleh keluarganya setelah menyatakan diri masuk Islam. Putri seorang rabi di Israel itu kini menjadi tunawisma. Rachel Moryousef Bent Azar, resmi berganti nama menjadi Rachida setelah masuk Islam 11 Mei 2015 lalu. Sang ibu yang mengetahui keislaman Rachida setelah dua minggu kemudian, langsung marah besar. Ia memukuli Rachida. Bagi ibunya, setiap Muslim sama dengan ekstremis dan teroris. 

“Saya mencoba untuk meyakinkan ibu saya bahwa Islam adalah agama yang damai. Tapi, dia bersikeras Muslim membunuh satu sama lain seperti ISIS,” tutur Rachida, dilansir dari Morocco World News, Sabtu (11/7). 

Bibi dan tetangga Rachida turut menghujat  hidayah tersebut. Mereka bahkan mendatangi rumah Rachida untuk meyakinkannya meninggalkan Islam. Mereka mengklaim umat Islam banyak membunuh orang-orang Yahudi di Israel. 

 “Israel yang membunuh Muslim di Palestina,” jawab Rachida saar itu. Akibatnya, Rachel kemudian diusir keluar dari rumah dan menjadi tunawisma. Ia tidak punya rumah ataupun uang karena selama ini ia belum bekerja. Peristiwa ini mendapat sorotan luas dari media-media di Maroko. Dalam sebuah wawancara, Rachel berharap Raja Mohamed VI bisa ikut campur tangan dan menjamin pekerjaan supaya ia bisa hidup damai. Semua orang mengancamnya keluar dari Islam, tetapi tidak ia lakukan.

Rachida, yang lahir di Casablanca mengaku sudah ingin masuk masuk Islam sejak remaja. Saat itu, ia ingin menikah dengan pria Muslim. Orang tuanya menolak, memukul, dan mencambuknya. Mereka kemudian membawa Rachida ke Israel. Ia dipaksa menikah dengan seorang pria Yahudi pada tahun 2002. 

Pernikahan itu tidak berlangsung lama. Ibu dari dua orang anak ini mengaku, suaminya berbuat kasar dan memperlakukannya dengan tidak hormat. Mereka akhirnya bercerai pada tahun 2008. Pada tahun yang sama, ayah Rachida meninggal di Israel. 

Rachida kembali ke Casablanca bersama ibunya, sementara kedua anaknya di Israel. Mantan suami Rachida menolak mengizinkan anak-anak mereka tinggal bersama ibunya.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id

Charizz Legaspi: Alquran Dan Hadits Adalah Tempat Terbaik Untuk Memulai

Mualaf ilustrasi


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Semua berawal dari sebuah benih keraguan. Charizz Legaspi, mahasiswi 23 tahun asal Filipina ini memberikan alasan mengapa ia berhenti ke gereja dan memilih Islam. Charizz hanyalah satu dari ribuan orang yang masuk Islam setiap tahunnya. Namun, gadis itu menuturkan, ada satu titik di pertengahan masa remajanya ketika ia benar-benar mulai meragukan keyakinan yang diajarkan oleh gereja. 

“Jika kamu tidak datang ke gereja tertentu, kamu tidak akan masuk surga. Itu benar-benar menyakitkan untuk saya. Apalagi ketika memikirkan Daddy tidak akan masuk surga karena dia Katolik, bukan bagian dari gereja Kristus,” kata Charizz dilansir dari Anadolu Agency, Selasa (14/7). 

Charizz mulai menjauh dari agama, meski kepercayaannya terhadap Tuhan masih tinggi. Sampai kemudian, gadis yang tinggal di Amerika Serikat ini mulai mempelajari Islam dan Nabi Muhammad. Pelan tapi pasti, Charizz akhirnya masuk Islam pasca Idul Fitri 2013. Sebagaimana lazimnya para mualaf, ia mengalami kesulitan dalam mempelajari ajaran Islam. Gadis itu kemudian memanfaatkan sumber-sumber online untuk mengobati keingintahuannya tentang agama. 

Ia mengaku tidak bisa tidur tanpa membaca atau menonton video tentang Islam dan Muslim. Namun, informasi agama yang tersebar luas di internet sulit diverifikasi. Charizz menyadari benar hal ini. Ia pun merujuk pada teman-teman Muslim untuk menjawab keraguannya.

“Saya menonton video, membaca terjemahan Alquran dan hadits, kemudian meminta bantuan teman-teman Muslim ketika saya membutuhkan klarifikasi,” katanya. 

Tantangan paling umum yang dialami para mualaf justru berasal dari keluarga. Hal serupa juga dialami Charizz. Kerabatnya di Filipina tidak sepenuh hati menyetujui keputusan besar itu. Mereka melontarkan banyak pertanyaan, misalnya "Apakah kamu menyembah Muhammad?” 

Ia juga menerima ejekan dari anggota keluarga dan rekan kerja. Mereka menyebutnya teroris, berbeda, atau hal-hal semacam itu. Tatapan aneh juga dia alami saat mereka melihatnya mengenakan jilbab. Terlepas dari itu, Charizz menilai semua tergantung kemauan seseorang. “Ini adalah tanggung jawab pribadi. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad menyuruh Muslim untuk membaca. Saya pikir, di atas segalanya, Alquran dan hadits adalah tempat terbaik untuk memulai,” kata Charizz.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id

Jumat, 03 Juli 2015

Kalene Santana: Saya Tetap Mencintai Kehidupan Khas Spanyol Namun Tetap Beribadah Dengan Cara Islam

Mualaf ilustrasi

ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Kalene Santana (19 tahun) masih tergolong muda saat berani memutuskan berpindah keyakinan dari Katolik menjadi seorang muslimah. Perempuan Hispanik keturunan Puerto Rico dan Dominika ini merasa kehidupannya kini lengkap. Lantaran ia hidup dan mencintai kehidupan khas Spanyol, berbahasa Inggris, namun beribadah dengan cara Islam.

Santana pun meyakinkan dirinya mampu menghadapi segala tantangan yang menghadang di antara tiga kultur yang dijalaninya. Namun, ia tidak sendirian. Jika Santana baru setahun menjalani kehidupan sebagai muslimah, ada perempuan Hispanik lainnya, Delma Oliveras yang menjadi muslimah sejak tiga tahun lalu.

“Para aktivis di organisasi Islam Nadoona yang membimbingku shalat, mengajarkan akidah dan adab dalam Islam,” ujar Oliveras yang kini bernama Zainab Ismail pada The Huffington Post, Jumat (3/7).

Kedua Latina ini merasakan, meski banyak perbedaan dalam budaya antara Hispanik dan Islam, ada titik persamaan terkait posisi dua budaya ini yang dianggap terlahir dari kelas sosial bawah di Amerika Serikat. Namun, mereka menguatkan pilihannya karena ada sekitar 40 ribu Muslim Hispanik yang tinggal di AS. Islamic Society of North America mendata bahwa kaum Hispanik banyak yang menjadi Muslim meski kultur Spanyol sangatlah berbeda. 

Ismail yang merupakan putri seorang pastur gereja Pentecostal ini menyebutkan beberapa karakter yang berbeda antara kultur Islam dan Hispanik.  

Untuk komunitas Hispanik dari Spanyol, Karibia, dan Amerika dikenal dengan sikap individualisme serta kebebasan berganti pasangan. Sehingga keputusan perempuan Hispanik untuk mengenakan hijab dan menutup seluruh auratnya sangat dipandang aneh.

"Aku tidak banyak berdiskusi dengan ayahku karena posisi orang tua dalam Islam adalah orang yang dihormati dan tak layak diajak untuk berdebat. Aku hanya mendoakannya,” tegas Ismail.

Tapi, ia tak menampik bahwa dukungan dari keluarga sangatlah berarti untuk memulai sebuah kehidupan baru. Akhirnya, ia memutuskan untuk menikah dengan seorang pria keturunan Lebanon dua tahun lalu demi menguatkan akidahnya dalam Islam.

“Tidak mendapat dukungan keluarga saat kita baru saja menjadi seorang istri sebenarnya berat. Tapi, itu adalah sebuah proses yang harus dijalani,” ujar Ismail.

Sementara, Santana mengaku masih sedikit mengalami kegamangan karena takut mengalami stigma sosial terkait penampilannya yang berjilbab.

"Aku pernah mengalami beberapa fase. Aku pergi ke masjid, tapi belum mengenakan hijab dan masih pergi ke pesta-pesta. Bahkan saat itu, aku seakan tidak takut laknat Allah SWT.  Aku masih bingung mengatasi perasaan tentang identitas ini, terutama saat berada di ruang publik," ujar Santana blak-blakan.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id

Senin, 29 Juni 2015

Saya Melahirkan Seorang Anak Kristen, Bukan Muslim Berjilbab

Mualaf Ilustrasi


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Aysha berasal dari wilayah utara Hungaria. Aysha pertama kali mendengar tentang Islam dalam pelajaran Sejarah di sekolah menengah. Kita tahu, Hungaria pernah berada di bawah pendudukan Turki selama 150 tahun. Setelah itu, Aysha belajar biologi molekuler di universitas, tempat dia bertemu banyak mahasiswa asing yang beragama Islam.  Aysha adalah seorang Katolik yang taat, tapi dia selalu punya keraguan dan ketidaksetujuan dengan beberapa bagian dari agamanya. Misalnya, konsep trinitas dan ajaran bahwa Allah dapat memiliki anak.

Suatu kali, saat mereka sedang makan malam, adzan terdengar. Salah satu teman meminta Aysha untuk menghentikan, tapi dia menolak. Ia malah merasa sangat terkesan dengan lantunan suara adzan itu. Pada musim panas, ia unduh program aplikasi Alquran, tanpa ia sadari apa alasannya. Ia mendengarkan ayat-ayat itu dalam bahasa Arab, kemudian membaca artinya dalam bahasa Inggris. Sejak itu, Aysha mulai banyak berpikir tentang Islam. Ia juga membaca buku-buku keislaman.

Setelah dua bulan berpikir, perempuan itu akhirnya masuk Islam. Itu terjadi kira-kira satu setengah tahun yang lalu. Ramadhan dimulai dan ia memutuskan untuk menjalani hidup baru. Sebuah pilihan yang berlawanan dengan budaya dan keluarganya, terutama dengan ibu Aysha.

Ia belajar sendiri bagaimana cara shalat lewat internet. Aysha sebenarnya merasa agak kesulitan karena tidak ada Muslim yang dekat di sekitarnya. Ia tidak bisa minta bantuan siapapun. Tidak ada yang bisa menunjukkan cara sholat, wudhu, doa apa yang harus diucapkan, adab-adab Islam, persoalan fiqih, dan sebagainya. Ketika dia mempunyai teman Muslim, teman itu malah membuatnya ragu. Dia bilang, kau tidak akan pernah memahami Islam karena kamu tidak dilahirkan sebagai seorang Muslim. Ia masih sangat baru ketika itu. Aysha merasa takut, bagaimana kalau dia tidak akan pernah bisa berdoa dalam bahasa Arab, tidak punya jilbab penutup kepala, tidak punya sajadah untuk sholat, dan sebagainya. Ia memiliki banyak ketakutan.

Tapi, kemudian ia mulai berpikir positif. Ia menuliskan bacaan shalat di kertas, memegang kertas itu dengan tangan kanannya, kemudian shalat sambil membaca kertas itu. Ia membaca kertas itu keras-keras, sujud, membaca lagi, dan seterusnya.  Ia yakin itu tampak lucu. Sampai akhirnya, ia berhasil menghafalkan dalam bahasa Arab. Lewat Facebook, ia mendapat banyak teman dan saudara baru. Seorang pria Muslim memberinya jilbab, sajadah, dan buku-buku Islam. Ia juga mendapat kiriman Alquran berbahasa Arab dari Yordan. Kini, sudah lebih dari setahun Aysha mengenakan jilbab. 

Perjuangan Aysha untuk menjadi seorang Muslim tidak mudah. Ia melalui periode yang sangat buruk dengan ibunya. Beliau mengatakan Aysha akan menjadi teroris dan meninggalkannya. Dia akan meletakkan semua yang mengandung babi di kulkas agar Aysha tidak bisa memakannya. Ibunya juga tidak tahan melihat Aysha sholat dan berjilbab. Jadi, dia shalat di lantai atas kamarnya. Dia sembunyi-sembunyi ketika mengenakan jilbab, sampai ibunya mengatakan, “Saya melahirkan seorang anak Kristen, bukan Muslim berjilbab.” Aysha mendapat masalah serius, tapi ia berusaha untuk tidak bersikap kasar. Alhamdulillah, setelah sekian waktu ibunya pun bisa menerima keislamannya. Ia kini bisa keluar mengenakan jilbab, dan ibunya tidak berkata apa-apa. 

Hubungan Aysha dengan ayahnya juga membaik. Sebelumnya, ayahnya tidak ingin melihat Aysha dan mereka tak pernah saling berbicara sepanjang waktu. Kini, ia telah mengunjungi Aysha secara teratur. Aysha sangat bersyukur. Kini, perempuan itu menjalani kesibukan dengan melakukan kegiatan sosial di Debrecen. Ia menyelenggarakan sebuah proyek untuk mengumpulkan pakaian bekas bagi kamp-kamp pengungsian. Ia juga mencoba memandu saudara-saudaranya yang ingin masuk Islam. Belajar dari pengalaman, ia memberi mereka buku, sajadah, dan salinan Alquran. Ia selalu mencoba untuk memperlihatkan kesan Muslim yang baik dan ramah kepada semua orang.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id

Kamis, 25 Juni 2015

Yahya Schröder: Kecelakaan Ini Benar-Benar Mengubah Hidup Saya

Yahya Schröder


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Yahya Schroder dibesarkan di sebuah desa kecil bersama ibu dan ayah tirinya di Jerman. Mereka tinggal di sebuah rumah besar dengan taman dan kolam luas. Sebagai seorang remaja, ia memiliki kehidupan yang menyenangkan. Ia mempunyai beberapa teman dekat yang bisa ia ajak jalan, melakukan hal-hal bodoh, dan minum alkohol seperti kebanyakan remaja Jerman lain. Tapi ketika masuk Islam, ia harus pindah ke Postdam, dekat Berlin. Ia meninggalkan rumah dan semua benda-benda berharga miliknya. Saat itu, ia masih berusia 17 tahun.

Dilansir dari onislam.net, Selasa (23/6), Yahya mengaku memiliki segalanya ketika tinggal dengan kedua orang tua. Sebuah rumah besar, uang pribadi, TV, play-station, dan semua benda berharga yang bisa dimiliki remaja. Ia tak pernah khawatir soal uang. Namun, Yahya tidak merasa senang. Ia sedang mencari sesuatu yang lain.

Semua itu berbalik arah ketika ia berusia 16 tahun. Ia bertemu dengan komunitas Muslim di Postdam melalui ayah biologisnya yang telah lebih dulu menjadi Muslim pada tahun 2001. Yahya mengunjungi ayahnya sebulan sekali, dan momen itu mereka gunakan untuk menghadiri pertemuan komunitas yang diadakan setiap Ahad. Saat itulah, Yahya mengaku tertarik pada Islam. Ayahnya melihat itu, tapi ia ingin Yahya belajar dari orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih tinggi. Ayahnya tidak ingin ada orang mengatakan, “Oh, dia menjadi Muslim karena masih 17 tahun. Dia hanya mengikuti apa yang dilakukan ayahnya.”

Yahya setuju dan mulai mengunjungi komunitas itu sebulan sekali untuk belajar Islam. Ia telah belajar banyak tentang Islam saat itu, sampai sesuatu terjadi dan mengubah cara pikirnya.

Pada Ahad, ia pergi berenang bersama komunitas Muslim. Naas, ketika tengah melakukan lompatan ke kolam renang, Yahya terjatuh dan terbentur di bagian kepala. Ayahnya segera membawa dia ke rumah sakit. Dokter rumah sakit itu berkata, “Anda mengalami kerusakan yang cukup buruk. Jika Anda melakukan gerakan yang salah, Anda kemungkinan akan menjadi cacat.” Yahya merasa sangat terpukul.

Hanya beberapa saat sebelum dokter membawanya ke ruang operasi, salah satu teman dia dari komunitas Muslim berkata, “Yahya, kamu sekarang berada di tangan Allah. Seperti rollercoaster, sekarang kamu berada di puncak perjalanan dan hanya dapat bergantung pada Allah”. Kalimat itu menyejukkan hatinya. Operasi berlangsung sekitar lima jam dan ia terbangun setelah tiga hari. Ia tidak bisa menggerakkan lengan kanannya, tapi ia merasa sangat bahagia. Ia mengatakan pada dokter bahwa ia tidak peduli dengan lengan kanan. Ia telah sangat senang Allah membiarkannya hidup.

Para dokter mengatakan, ia harus tinggal beberapa bulan di rumah sakit. Tapi, dengan latihan keras ia hanya tinggal selama dua minggu. Ia telah bisa menggerakkan lengan kanannya lagi.  “Kecelakaan ini benar-benar mengubah hidup saya. Saya perhatikan ketika Allah menghendaki, kehidupan seseorang dapat diambil dalam satu detik,” kata Yahya.

Ia pun mulai memikirkan kehidupan dengan lebih serius. Keinginannya untuk menjadi Muslim sangat kuat. Ia tinggalkan ayah tiri, ibu, dan semua kemewahan yang selama ini dia enyam. Yahya kemudian pindah ke apartemen ayahnya yang lebih kecil di Postdam. Meski tampak seperti telah kehilangan segalanya, pemuda Eropa itu merasa sangat senang.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id, myspace.com

Minggu, 14 Juni 2015

Abrahamsen: Saya Telah Menemukan Rasa Tenang Yang Saya Cari

Abrahamsen


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Selamat dari peristiwa pembantaian tanggal 22 Juli 2011 di pulau Utoya telah menjadi titik balik kehidupan bagi Morten Abrahamsen Ibrahim. Pria asal Hamar, Norwegia yang sekarang berusia 23 tahun ini memutuskan untuk masuk Islam.

Ia telah melalui masa sulit di pulau, ketika seorang pria bersenjata, Anders Behring Breivik, menewaskan 69 orang pemuda di kamp musim panas yang diadakan oleh Partai Buruh. 

"Saya mendapatkan banyak perlawanan, juga secara terbuka, dari orang-orang yang berpikir saya rentan dipaksa untuk berpindah agama," kata Abrahamsen, dilansir dari Onislam.net pada Selasa (9/6).

Sekarang sudah hampir empat tahun sejak pembantaian itu, Abrahamsen sudah menjadi muslim dan berkembang bersama agama nabi Muhammad SAW. Ia menyatakan keislamannya pada perwakilan Islam Net, sebuah organisasi Islam di Oslo, Norwegia. "Saya telah menemukan rasa tenang yang saya cari," ucapnya.

Breivik adalah seorang penjahat yang digambarkan oleh polisi sebagai sayap kanan fundamentalis Kristen. Dia  menewaskan sedikitnya 76 orang dalam serangan ganda di gedung pemerintah dan kamp pelatihan pemuda di Oslo pada bulan Juli 2011.

Breivik mengaku serangannya adalah misi untuk menyelamatkan Kerajaan Kristen Eropa dari ajaran Islam. Dalam manifesto yang ia posting online sebelum serangan, Breivik juga menulis bahwa ia menargetkan 'pengkhianat' yang berhaluan kiri, seperti yang mereka duga pada Abrahamsem. 

Menjelaskan kesalahpahaman tentang Islam, Abrahamsen berpendapat bahwa saat ini umat Islam tidak bisa menuntut pemberlakuan hukum syariah. Ia mencatat jika hukum syariah sendiri sering tidak diberlakukan sebagaimana mestinya.

Abrahamsen adalah satu dari sekian banyak gelombang anak muda Norwegia yang memutuskan untuk masuk Islam akhir-akhir ini. Anak-anak muda Norwegia itu berpendapat, Islam mampu memberikan tujuan hidup dan pedoman atau aturan yang selama ini hilang di tengah-tengah masyarakat.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id, wisbenbae.blogspot.com

Anne Coxon: Ada Kalanya Muslim Berkulit Putih Dianggap Aneh

theguardian.com


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Hidayah menjadi seorang muslimah sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh dokter  Annie Coxon. Setelah merawat ibu Sultan Oman, Annie ternyata tergerak untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Itu sekitar 23 tahun lalu saat saya bertugas merawat ibu Sultan Oman. Saya melihat prosesnya ketika menghadapi rasa sakit dengan penuh rasa spiritual. Kemudian, saya juga mengalami sejumlah mimpi yang menunjukkan jalan menuju Islam,” cetus Annie yang kemudian mengubah namanya menjadi Amina pada The Guardian, Kamis (11/6).

Ia mengakui bahwa sebenarnya saat itu sama sekali tidak tertarik mempelajari Islam. Lantaran banyak stigma terhadap ajaran Islam yang dipublikasikan media Barat. Keluarganya yang merupakan penganut Katolik Anglikan yang taat awalnya terkejut, namun kemudian bisa menerima pilihannya. Tantangan pun kian kencang saat peristiwa pemboman 9/11. Annie juga mengalami pelabelan negatif sebagai penganut agama teror. Bahkan, saudara ipar perempuannya menolak mentah-mentah membukakan pintu rumahnya saat Annie ingin berkunjung. Sebagian temannya pun menilai pilihan Annie berpindah keyakinan sebagai aksi eksentrik semata.

“Saya mencoba bergabung dengan komunitas Muslim Turki, Pakistan, dan Maroko selama tiga tahun. Namun, karena saya termasuk pionir mualaf berkulit putih, mereka awalnya tak ada yang mengucapkan selamat Idul Fitri pada saya,” jelas Annie.

Menyadari kondisinya yang berbeda, Annie tak ambil pusing. Bahkan saat ia menjalani perawatan kanker, hanya seorang pria Muslim paruh baya yang menjenguknya setiap hari sembari mendoakan kesembuhannya selama sembilan bulan.

“Yang terpenting, saya merasakan kedamaian dan kebijaksanaan dalam batin saya. Tapi, sekarang saya merasa cocok bergabung dengan komunitas Muslim Afrika,” katanya.

Annie mahfum, banyak komunitas Muslim di London terbentuk atas keterikatan latar belakang mereka sebagai imigran. Sikap tersebut terbawa hingga ke dalam lingkungan masjid.

“Ada kalanya, Muslim berkulit putih dianggap aneh. Tapi, itu tak jadi masalah,” terangnya.

Yang menjadi semangatnya adalah komentar dari para pasiennya. Mereka menilai sikap dan perilaku Annie sangatlah berbeda karena terlihat lebih sabar dan santun.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id, theguardian.com

Selasa, 02 Juni 2015

Ioni Sullivan: Maka Saya Tak Perlu Seorang Pendeta Untuk Mendoakan Kita Agar Masuk Surga

Ioni Sullivan


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Ioni Sullivan (38 tahun) sangat dikenal oleh warga Lewes, East Sussex, Inggris karena satu-satunya perempuan berjilbab di pedesaan tersebut. Padahal perempuan berputra dua orang ini terlahir dari keluarga atheis yang berpendidikan tinggi. Ayahnya, seorang profesor dan ibunya menjadi guru.

Setelah menyandang master filsafat dari Cambridge pada tahun 2000, Sullivan lantas bekerja di beberapa negara, seperti Mesir, Yordania, Palestina, dan Israel.

“Sekembalinya dari sana, aku merasa terkesan dengan ketegaran orang-orang disana, terutama umat Islam. Meski didera berbagai kesulitan, mereka tetap berusaha bertahan dengan keyakinnya. Ini kontras sekali dengan duniaku,” cetus Sullivan pada The Guardian.

Tahun 2001, ia menikah dengan seorang pria muslim Yordania yang tidak terlalu taat beribadah. Mereka menikah secara Islam. Namun, Sullivan mengakui, di awal pernikahannya, mereka hidup dengan gaya Barat. Hampir setiap hari mereka mengunjungi bar dan klub malam.

Kemudian, Sullivan harus menemui kenyataan bahwa ada kewajiban puasa Ramadhan dan zakat. Disitulah ia merasa harus mengendalikan pikiran tentang kebebasan ala Barat-nya. Puasa dan zakat, ujarnya, harus dilihat sebagai sebuah proses untuk mengendalikan diri. Setelah melalui proses kesadaran untuk mengendalikan dirinya, Sullivan pun dengan ikhlas belajar bahasa Arab agar bisa memahami Alquran.

“Saya membaca buku yang menyatakan bahwa bukti keberadaan Allah ada dalam setiap makhluk ciptaan-nya. Sehingga karena kita makhluk-Nya, maka saya tak perlu seorang pendeta untuk mendoakan kita agar masuk surga,” ujarnnya.

Perubahan terakhir pada diri Sullivan adalah keputusan untuk memakai jilbab setelah mempelajari Alquran secara utuh. Sullivan pun mengaku, tantangannya terletak pada lingkungan tempat tinggalnya.

“Mereka selalu mengira saya memakai penutup kepala karena terkena kanker. Meski terkejut dengan pemikiran itu, tapi saya tak mempersoalkannya karena hubungan di antara kami sangat baik.”

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.com

Rabu, 27 Mei 2015

Bagaimana Engkau Meraih Kebenaran, Siapa Yang Kau Anggap Sebagai Kebenaran?

Adekunle Afolabi


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Di Nigeria, khususnya di wilayah dengan mayoritas suku Yoruba, toleransi beragama paling minim. Di sana, sudah biasa untuk melihat Muslim masuk Kristen. Hampir tidak pernah dilaporkan seorang Kristen masuk Islam.

Namun, seorang pria, mantan pendeta, Adekunle Afolabi, pendiri dan pemimpin sebuah Gereja Seraphim, di Ekute, memecah 'kutukan' tersebut baru-baru ini. Dia memilih Islam setelah menjadi seorang Pastor Kristen selama lebih dari 25 tahun.

Sekarang ia dikenal dengan nama Islamnya, Alfa Abubakar Afolabi. Pria 45 tahun itu memeluk Islam setelah tiga kali mendapat petunjuk hidayah melalui mimpi. Sebelum memeluk Islam, Afolabi bahkan telah mendirikan sebuah komunitas gereja yang tersebar di seluruh cabang-cabang di Nigeria.

Pada mimpi pertama, Afolabi melihat jemaat Gerejanya sedang duduk di lantai Gereja, beberapa dari mereka menutupi kepala mereka dengan peci. Afolabi juga melihat bahwa orang-orang mencuci tangan dan kaki mereka, sebelum memasuki gereja. Ia tahu, bahwa ritual itu dilakukan banyak Muslim sebelum memasuki Masjid.

Kendati demikian, mimpi itu nyatanya belum membuatnya mengenal Islam lebih dekat. Ia hanya berpikir Tuhan ingin memerintahkan semua orang untuk menjaga kebersihan. Mimpi itu belum membuatnya sadar bahwa Islam tengah menyapanya untuk kali pertama.

Pada mimpi kedua, Afolabi mengaku melihat perempuan berhijab di gerejanya. Bahkan dengan mimpi itu, Afolabi meminta pada suatu Ahad agar jemaat perempuannya untuk datang dengan mengenakan jilbab. Sebagai seorang pemilik Gereja, cukup banyak yang menuruti permintaannya. Sedikitnya 10 perempuan.

Mimpi kedua itu mempertajam instingnya untuk terus mencari makna Islam dari mimpinya. Setelah itu, semakin banyak hal-hal aneh yang ia temui dalam mimpi-mimpi berikutnya. Hingga suatu hari, mimpi terakhir itu datang.

Afolabi bermimpi seseorang datang kepadanya, membangunkan tidurnya dan kemudian membawanya pada perjalanan ke suatu tempat. Sosok misterius di mimpinya itu mengajukan pertanyaan: Bagaimana engkau meraih kebenaran, siapa yang kau anggap sebagai kebenaran?

Afolabi mengaku saat itu hanya terdiam. Sosok dalam mimpinya itu kemudian menunjukkan telapak tangannya. Ia melihat bahwa jika telapak kiri itu menunjukkan angka 81 dalam angka Arab, dan di telapak kanan mengguratkan angka 18. Sosok itu menjelaskan bahwa jumlah 99 merupakan singkatan dari sembilan puluh sembilan nama Allah. Sejak saat itulah Afolabi mengaku justru lebih banyak mendatangi Masjid daripada gereja yang dipimpinnya. Sehingga akhirnya mengundang seorang Imam di pusat kota, seorang ulama muslim untuk berkhotbah di gereja. Dengan Imam itu pula, Afolabi kemudian dipimpin untuk membaca dua kalimat syahadat.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id

Jasmine Crawford: Saya Memohon Kepada Allah Agar Selalu Membimbing Saya

Mualaf ilustrasi


ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM, Jasmine Crawford memutuskan menjadi Muslim sejak setahun lalu. Islam dipilih karena menurutnya benar. "Saya memohon kepada Allah agar selalu membimbing saya," kata dia seperti dilansir Onislam, Selasa (26/5).

Sebelumnya, Jasmine merupakan penganut Katholik. Perjalanannya memeluk Islam cukup panjang. Ia pelajari dahulu agama-agama dengan harapan dapat mengetahui mana agama yang sesuai dengan apa yang dicarinya. "Saya termasuk orang yang senang belajar hal baru. Semakin banyak saya pelajari, saya semakin mendalaminnya," kata dia.

Jasmine mengakui, diawal pencariannya bagi sebagian warga AS Islam adalah agama teroris. Hak perempuan dikekang. "Saya kira ini karena sebagian Muslim tidak memperlihatkan seperti apa ajaran Islam sesunggungnya. Sehingga mereka tidak mewakili Islam dengan cara  yang seharusnya,"" kata dia. Meski demikian, Jasmine memiliki sahabat seorang Muslim yang memberikan perspektif berbeda. Banyak keindahan Islam diperlihatkan sahabatnya. "Saya bersyukur alhamdulillah, memiliki teman muslim yang sejati” jelasnya.  

Dari sahabatnya itu, Jasmine mengaku kagum dengan ucapan dua kalimat syahadat. “Kalimat syahadat ini adalah fakta bahwa kita langsung menuju Allah SWT tanpa ada tuhan lain. Ini yang membuat saya merasa kagum dan Islam adalah agama yang benar,” jealsnya.

Jasmine juga kagum dengan keaslian isi Alquran. “Dengan landasan Alquran tersebut membuat saya banyak lebih masuk akal daripada agama lain.” Ujarnya.

Di dalam keluarganya Jasmine ialah satu-satunya Muslim. Saya punya anggota keluarga jauh. “Tapi seperti yang sekarang saya satu-satunya Muslim di keluarga saya, dan saya hidup bersama ibu,” ujarnya.

Hubungan dengan Jasmine dengan orangtuanya sangatlah baik.”Alhamdulillah gubungan saya dengan keluarga sangatlah baik. ibu saya ialah wanita terindah. Dia selalu membantu segala sesuatunya, seperti membangunkan saat Fajr (shalat subuh), membelikan makanan halal," kata dia. 

“Saya merasa bangga terhadap ibuku. Ia tidak pernah mempermasalahkan agama yang dipeluk oleh saya,” jelas Jasmin.

Menurut Jasmine, ada satu pesan dari ibunya ketika ia memeluk Islam. "Jika Islam membuatmu bahagia pelukah. Jangan pernah langgar ajaran agama yang Anda peluk," kata dia.

Di New York City, Jasmine merasakan dengam mudah dalam mempraktikan ajaran agamanya. Pasalnya di New York setiap sudut kota terdapat toko makanan halal. "Jadi itu sangat mudah, dan saya sudah makan banyak ikan akhir-akhir ini," kata dia.

Edited By : Aditya Von Herman
Source : republika.co.id

Che Guevara (Ernesto Rafael Guevara de la Serna)

Che Guevara (thechestore.com) ASTERPRESCOTT.BLOGSPOT.COM , Bismillah Hirrahman Nirrahim. Dia dikenal dengan sosok yang revolusioner, berani ...